Perjumpaan yang baik
Senin, 25 Juli 2016
Renungan Harian
“PERJUMPAAN YANG BAIK”
Keluaran 18:1-12
I. Pendahuluan
Tidak sedikit orang Kristen berjumpa dengan mereka yang di sekitar mereka sering kali membuahkan hasil beragam. Ada yang berjumpa dengan menghasilkan pertengkaran, ada pula perjumpaan yang berakhir dengan kesepakatan-kesepakatan antara beberapa pihak untuk mencapai tujuan bersama, tat-kala perjumpaan juga menghasilkan rencana-rencana/program untuk masa depan.
Sebagai orang Kristen, kita dituntut untuk membangun komunikasi di antara kita yang Kristen maupun yang di luar Kristen. Bagaimana hasil perjumpaan itu merupakan hal penting yang harus dipkirkan melalui proses-proses yang sedang berjalan. Perjumpaan Yitro dengan Musa(yang notabene kunjungan) menjadi salah satu teladan bagi kita ketika seorang Musa menyambut kunjungan itu.
II. Isi
Pada perikop ini berbicara bagaimana Musa bersaksi akan penyertaan Tuhan selama di Padang Gurun selama perjalanan orang Israel keluar dari Mesir. Bagaimana Tuhan menyelamatkan orang Israel ketika itu sangatlah penting untuk disampaikan kepada yang lain untuk menjadi sukacita bagi mereka dan keyakinan bagi mereka.
Adakah Tuhan meyertai mereka di padang Gurun saat mereka sedang susah? Apakah hasil dari kunjungan Yitro terhadap Musa? Pembicaraan antara Yitro dan Musa merupakan hubungan intim antara Musa dan Yitro mertuanya itu.
Sebelum perikop dalam pasal ini, sebuah peristiwa yang mendahului yakni ketika orang Israel di bawah pimpinan Musa melawan orang Amalek dan mereka menang. Peristiwa ini diprakarsai oleh Musa dan Yosua di bawah firman Tuhan yang selalu menuntun mereka. Hal inilah yang membuat Yitro mengunjungi Musa, bertanya tentang peristiwa itu. Bisa dikatakan Yitro pada saat itu terkagum akan kemenangan Israel yang dipimpin oleh Musa itu dan juga hal itu merupakan keprihatinan Yitro terhadap menantunya Musa.
Apakah Yitro dahulu tidak mengerti atau tidak percaya akan kuasa Tuhan atas Israel selama di perjalanan keluar dari Mesir? Mari kita perhatikan ayat 11 di mana pernyataan Yitro kepada Musa: “sekarang aku tahu...,” pernyataa ini dapat berarti bahwa Yitro sebelumnya tidak mengerti akan penyertaan Tuhan. Sekalipun ia mengerti atau percaya, namun masih masih meraba-raba dalam hati dan terus bertanya. Namun setelah Musa menceritakan semua peristiwa itu kepadanya(ay. 8) Yitro terkagum dan berkata “terpujilah Tuhan...,”(ay. 10) dan meneruskan pernyataannya “sekarang aku tahu..,”.
Pernyataan itu tidak berhenti hanya pada kata-kata saja, melainkan kita baca dalam perikop ini, bagaimana Yitro melanjutkan pernyataannya itu dengan mewujudkannya dalam perbuatannya. Pada ayat 12 tertulis bahwa Yitro mempersembahkan korban bagi Tuhan. Hal ini menunjukkan bagaimana Yitro tidak hanya sebatas mendengar dan percaya, namun Yitro memberi persembahan kepada Tuhan.
Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya tinggal di dalam kesesakkan.
III. Kesimpulan
Sering kali kita(orang Kristen) lebih eksist di bawah logika kita yang semuanya dipikirkan sesuai akal kita. Hal ini membuat tidak sedikit orang terus bertanya dan bertanya untuk membuktikan sesuatu hal yang dianggap untuk dipercaya itu. Tidaklah salah setiap orang bertanya karena memang manusia penuh pertanyaan.
Bagaimana kita menjadi percaya akan penyertaan Tuhan kalau kita hanya terus bertanya? Yitro menjadi percaya dari apa yang ia dengar. Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma menulis “dari pendengaran timbullah Iman”(Roma 10:17). Buah dari iman, Yitro mempersembahkan korban bagi Tuhan.
Apa juga yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan oleh karena penyertaan Tuhan dalam hidup kita? Adalah Paulus lagi-lagi menulis “persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup”(Roma 12:1-2). Seperti Yitro mendengar, percaya, dan memberi korban persembahan.
“Berbahagialah kita yang menjadi percaya dan berserah kepada Tuhan”
Langganan:
Postingan (Atom)